Kajian Al Jamaah

Kewajiban Menetapi Jama’atul Muslimin (Al Jama’ah) (Bagian 2)

Kewajiban Menetapi Jama’atul Muslimin (Al Jama’ah) Bagian 2– Situs Jama’atul Muslimin pada kesempatan ini akan membahas tentang kewajiban menetapi Al Jama’ah atau Jama’atul Muslimin. Untuk pencarian yang serupa bisa mengunjungi kategori Kajian Al Jama’ah.

Silakan Baca Juga

Keharusan Mengikuti Aturan Alloh Dalam Menegakkan Agama

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS Al An’am ayat 153)

Dalam menjelaskan ayat tersebut tafsir Al Jami’ul Bayan menyebutkan:

امرالله المؤمنين بالجماعة ونهاهم عن اللآختلاف والفرقة واخبرهم انّه انّما هلك من كان قبلهم بالمرء والخوصمات فى دين الله

“Alloh memerintahkan mu’minin menetapi Al Jama’ah dan melarang mereka dari perselisihan dan perpecahan; dan dia mengabarkan kepada mereka bahwa binasanya orang-orang sebelum mereka hanyalah karena saling mempermalukan (menjelekkan) dan banyak bertengkar dalam (melaksanakan) agama Alloh).” (Tafsir Al Jami’ul Bayan Juz 8 halaman 88)

Penjelasan:

Dari ayat diatas dan keterangannya kita dapat mengerti bahwa Alloh memerintahkan seluruh mu’minin untuk mengikuti aturan Alloh supaya tidak bercerai berai.

Berjuang menegakkan agama Alloh dengan sistem Al Jama’ah adalah aturan Alloh dan muslimin di seluruh dunia  harus menjadi satu jama’ah seperti perintah Alloh. Oleh karena itu apabila aturan dan perintah Alloh ini diikuti seluruh muslimin/ mu’minin maka mereka tidak akan bercerai berai seperti sekarang ini.

Rusaknya umat sebelum umatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena bermacam-macam golongan dan aliran. yang satu sama lain saling menjelekkan dan berselisih serta bertengkar, bahkan berperang. Oleh karena itu Alloh memperingatkan umat muslimin dengan ayat di atas.

Tetapi kenyataannya peringatan Alloh itu tidak diindahkan. Buktinya muslimin mengganti namanya menjadi banyak sekali nama-nama golongan yang sesuai seleranya masing-masing, sehingga keadaannya menjadi lemah dan rusak. Tidak ada kejayaan dalam perjuangan dan aqidah Islam pun menjadi tercemar oleh kebathilan yaitu bid’ah dan khurafat.

Maka tiada jalan lain, umat muslimin harus kembali menetapkan wadah aslinya yang telah ditegakkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu Al Jama’ah / Jama’atul Muslimin.

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu (Muhammad) terhadap mereka. Sesungguhnya urusan  mereka hanyalah (terserah) kepada Alloh. Kemudian Alloh akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS Al An’am ayat 159)

Dalam menafsirkan ayat diatas, tafsir Al Jami’ul Bayan menyebutkan sebagai berikut.

انّ الّذين فرّقوا دينهم وكانوا شيعا لست منهم فى شيئ وليسوا منك هم اهل البدع واهل الشّبهات واهل الضّلالة من هذه الامّة

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka dan tidaklah mereka dari golonganmu. Mereka itu ahli bid’ah dan ahli syubhat (banyak keliru) dan ahli dholalah (banyak sesat) diantara umat (Muhammad) ini.” (Tafsir Al Jami’ul Bayan Juz 8 hal. 105)

Penjelasan:

Dari ayat diatas beserta tafsirnya kita dapat mengerti bahwa orang-orang yang mengaku beragama islam, lalu mereka membuat golongan-golongan/ aliran-aliran dalam melaksanakan agamanya, mereka berarti telah merusak Islam sehingga Nabi Muhammad dilarang oleh Alloh mengakui mereka, dan urusan mereka nanti berhadapan dengan Alloh. Mereka diberitahukan tentang siksanya atas perbuatan yang telah mereka lakukan.

Mereka yang membuat golongan-golongan dalam agamanya adalah termasuk perbuatan ahli bid’ah (mengada-ada), syubhat (banyak keliru) dan ahli dholalah (menempuh jalan sesat).

Kalau kita amati akibat membuat dan mengada-ada tata cara keagamaan di luar ketentuan Alloh dan Rosul-Nya, baik tentang nama golongan dan amaliyahnya, timbulnya persengketaan yang tiada hentinya.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama; (tetaplah atas) fitroh Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitroh. Tidak ada perubahan atas fitroh Alloh. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (30)

“Dengan kembali bertaubat kepadaNya dan bertakwalah kepadaNya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu menjadi golongan orang musyrikin.” (31)

Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golonga. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (32) (QS. Ar Rum ayat 30-32)

Penjelasan:

Dari ayat diatas kita dapat mengerti bahwa hati nurani semua umat manusia cocok dengan agama Alloh, karena Alloh yang memang mengatur demikian. Sampai kiamat pun hati nurani manusia tetap tidak berubah, yaitu tetap cocok dengan agama Alloh.

Termasuk juga sistem Al Jama’ah yang diadakan di dalam agama Alloh. Sudah barang tentu sesuai  dengan hati nurani masing-masing orang yang mengaku beragama Islam.

Hanyalah karena hawa nafsu yang telah diilhami oleh syetan, ada manusia yang menerima Islam sebagai agamanya, namun tidak mengakui sistem Al Jama’ah sebagai tempat berhimpunnya. Mereka lebih senang membentuk himpunan sendiri di dalam melaksanakan perjuangan agamanya.

Terhadap mereka yang demikian, Alloh menyuruh bertaubat dengan cara:

a. Kembali kepada aturan Alloh

b. Tunduk kepada-Nya

c. Dirikanlah sholat

d. Janganlah menjadi golongan musyrikin, yaitu yang membuat golongan-golongan dalam agamanya.

انا امركم بخمس والله امرني بهنّ بالجماعة والسمع والطّاعة والهجرة والجهاد فى سبيل الله فأنّه من خرج من الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الاسلام من عنقه الاّ ان يراجع ومن دعا بدعوى الجاهليّة فهو من جثاء جهنّم. قالوا يا رسول الله وان صام وصلّى قال وان صام وصلّى وزعم انّه مسلم فادعوالمسلمين بما سمّاهم المسلمين

“Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku diperintahkan kepadamu dengan lima dan Alloh menyuruh dengan yang lima yaitu: 1. Al Jama’ah 2. mendengarkan 3. ta’at 4. hijrah dan 5. Jihad pada jalan Alloh. Sebab sesungguhnya barang siapa keluar dari Jama’ah sekedar sejengkal, maka yakin telah membuang kekuatan Islam dari tengkuknya (pundaknya), kecuali apabila ia kembali. Barang siapa berdakwah dengan dakwah jahiliyah, maka ia telah menjadi suluh jahanam.” Mereka berkata, “Ya Rosululloh, walau pun mereka berpuasa dan sholat? Rasul berkata, “Ya walaupun puasa dan sholat dan bahwasanya dia mengaku muslim.” Oleh sebab itu panggillah muslimin yang Alloh telah menamai mereka Muslimin.” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir Jilid I hal.52) (Lihat lagi pada Musnad Ahmad Jilid 4 Hal.130 dan hal.202)

Penjelasan:

Dari hadist diatas kita dapat mengerti bahwa Alloh dan RosulNya telah memerintahkan kepada kita semua dengan lima perkara, yaitu:

  1. Al Jama’ah
  2. Mendengarkan
  3. Taat
  4. Hijrah
  5. Jihad pada jalan Alloh

Pertama kita harus berjama’ah, artinya seluruh muslimin melaksanakan agama dengan cara jama’ah yang dipimpin oleh seorang pimpinan atau Imam. Muslimin tidak boleh hidup menyendiri, tidak boleh membentuk jama’ah sendiri-sendiri.

Kedua, setelah kita ada dalam jama’ah, diharuskan mendengarkan, memperhatikan dan mengkaji ajaran-ajaran Islam dan nasihat-nasihat imamnya.

Ketiga kita harus mentaati ajaran Islam dan nasehat-nasehat Imamnya.

Keempat kita harus hijrah yaitu meninggalkan apa-apa yang dilarang Alloh dan berpindah kepada apa-apa yang diperintahkan Alloh. Contohnya Bergolong-golongan dalam agama adalah dilarang oleh Alloh, maka kita harus berhijrah (berpindah) kepada Jama’atul Muslimin yang merupakan perintah Alloh.

Kelima kita harus jihad pada jalan Alloh, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan agama Alloh dengan berpedoman kepada tata cara yang sudah diatur oleh Alloh dan dicontohkan Rosul-Nya.

Siapa saja yang mengaku beragama Islam, tetapi tidak menetapi Al Jama’ah maka artinya dia telah membuang kekuatan Islam dari dirinya.

Kita semua telah sama-sama maklum, bahwa akibat meninggalkan sistim Al Jama’ah, sekarang ini kekuatan Islam dimana-mana sangat lemah, bahkan kadang-kadang bisa dipermainkan oleh pihak lain.

“Manusia itu umat yang satu (setelah timbul perselisihan) maka Alloh mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan diantara mereka tentang masalah yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan yang nyata, karena kedengkian antara mereka sendiri. Maka Alloh memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Alloh memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS Al Baqarah ayat 213)

Penjelasan:

Dari ayat diatas kita dapat mengerti bahwa tiap-tiap umat asalnya bersatu dipimpin oleh Nabinya. Kemudian setelah Nabinya lama tiada, umat itu bercerai berai lagi. Akhirnya diutus nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk menghimpun umat manusia menjadi satu himpunan.

Diantara sekian banyak umat manusia di dunia ini banyak yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad tersebut. Dan oleh beliau dihimpun menjadi satu jama’ah yaitu Jama’atul Muslimin.

Namun setelah lama Nabi Muhammad wafat, muslimin terpecah lagi menjadi berbagai golongan yang satu sama lain berdiri sendiri sendiri. Bahkan tidak sedikit yang keadaannya perorangan, tidak masuk jama’ah mana pun.

Maka ayat diatas menjadi isyarat bahwa muslimin harus bersatu kembali menjadi satu jama’ah dan satu pegangan yaitu petunjuk Alloh.

Demikian penjelasan tentang Kewajiban Menetapi Jama’atul Muslimin. Semoga bermanfaat

Tags
Show More

Related Articles

Close