Kajian Al Jamaah

Kewajiban Menetapi Jama’atul Muslimin (Al Jama’ah) (Bagian 1)

Kewajiban Menetapi Jama’atul Muslimin (Al Jama’ah) Bagian 1– Situs Jama’atul Muslimin pada kesempatan ini akan membahas tentang kewajiban menetapi Al Jama’ah atau Jama’atul Muslimin. Untuk pencarian yang serupa bisa mengunjungi kategori Kajian Al Jama’ah.

Silakan Baca Juga

 Seluruh Muslim Di Dunia Wajib Menetapi Al Jama’ah/ Jama’atul Muslimin

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah berpecah belah di dalamnya. Amat berat menerima bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Alloh menarik memilih kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepadaNya)” (QS. Asy Syuro ayat 13)

Penjelasan:

Dari ayat diatas kita dapat mengerti bahwa Alloh telah mewajibkan seluruh muslimin dari dahulu sampai sekarang untuk berjuang menegakkan dinul Islam.

Dalam perjuangan menegakkan Dinul Islam, Alloh melarang muslimin berpecah belah. Ini berarti kita semua diharuskan ada dalam satu Jama’ah agar perjuangan menegakkan Dinul islam menjadi kuat dan jaya.

Berpegang Teguh Kepada Tali (Agama) Alloh Dengan Cara Jama’ah

“Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Alloh dengan Jama’ah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh menjinakkan antara hatimu, lalu dan kamu telah berada di tepi jurang neraka lalu Alloh menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Al Imran ayat 103).

Penjelasan:

Dari ayat diatas kita dapat mengerti bahwa Alloh mewajibkan seluruh muslimin untuk melaksanakan agama Alloh dengan cara Jama’ah tidak boleh bercerai berai. Ini berarti Muslimin di seluruh dunia wajib menjadi satu Jama’ah dan semuanya berpegang kepada satu sumber pegangan yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.

Alloh mengingatkan bahwa umat manusia sebelum menjadi Muslimin keadaannya jahiliyah yang selalu bercerai berai dan bermusuh-musuhan. Kemudian Alloh mempersatukan diri mereka yang mau menjadi muslimin, menjadi satu Jama’ah yang dipimpin oleh Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. sehingga keadaannya bersaudara, bersatu padu bagaikan satu bangunan yang amat kuat yang satu sama lain saling menguatkan. Bagaikan satu jasad yang satu sama lain anggota jasadnya saling merasakan suka dan dukanya.

Peringatan Alloh itu mengandung pengertian bahwa janganlah Muslimin itu kembali lagi ke alam jahiliyah yang keadaannya bercerai berai baik mengenai jama’ahnya maupun pegangan aqidahnya.

Kalau kita mau berpikir secara mendasar larangan bercerai berai itu tidak mengandung pengertian bahwa muslimin boleh berbeda-beda nama golongan dan masing-masing berdiri sendiri, asalkan tidak berselisih dan bertengkar.

Tidak demikian, sebab pada kenyataannya dari perbedaan nama golonganlah timbul tidak adanya persatuan, baik mengenai Jama’ahnya ataupun pengamalan agamanya. Bahkan masing- masing golongan saling berselisih dan bertengkar, sampai-sampai berperang.

Oleh karena itu yang benar adalah muslimin itu harus satu Jama’ah baik nama jama’ahnya maupun aqidah dan pengamalan agamanya. Nama Jama’ahnya juga harus dari ketetapan Alloh dan RosulNya. Kalau kita kaji asal mula timbulnya golongan-golongan di kalangan  kaum muslimin itu adalah suatu penyimpangan dari jama’ah yang sudah ditegakkan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu ketika Abdulloh bin Saba dari Yahudi berpura-pura masuk Islam. Kemudian menghasut tokoh-tokoh Muslimin untuk membentuk komplotan pemisah dan penentang terhadap Al Jama’ah.

Adapun tentang orang-orang Muhajirin dan Anshor, itu bukanlah golongan yang disengaja didirikan di kalangan muslimin, melainkan hanyalah sebutan nama-nama dari Alloh dan Rosul-Nya atas perjuangannya dalam melaksanakan tugas dari Alloh di waktu peristiwa Hijroh dari Mekkah ke Madinah.

Tafsir Ibnu Katsir Tentang Surat Al Imron Ayat 103

Di dalam menafsirkan ayat di atas Ibnu Katsir menyebutkan hadist sebagai berikut.

عن عبد الله قال رسول الله ص: اتقوالله حق تقاته ان يطاع فلا يعصي ويشكر فلاتكفر ويذكر فلا ينسى

“Dari Abdulloh, Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Bertaqwalah kamu kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepadaNya. Jika ditaati janganlah ia durhaka, dan jika ia bersyukur janganlah kufur dan jika ia ingat janganlah ia melupakan.” (Tafsir Ibnu Katsir Jilid I halaman 387).

Penjelasan:

Dari hadist di atas kita dapat mengerti bahwa Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kita semua supaya tunduk dengan sebenar-benarnya kepada semua aturan Alloh. Jika kita sudah mentaati dilarang durhaka kembali. Jika kita sudah bersyukur atas ni’mat aturan Alloh, dilarang menolak aturan itu. Jika sudah mengingat akan ni’mat aturan Alloh dilarang melupakannya kembali.

Maka kalau kita tafakuri Al Jama’ah adalah aturan Alloh yang sudah ditegakkan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan adalah satu keni’matan bagi kejayaan perjuangan umat muslimin. Oleh karena itu kita harus tunduk, harus selalu ingat dan harus selalu bersyukur. Tidak boleh kufur, tidak boleh melupakan.

امرهم بالجماعة ونهاهم عن التفرقة يرض لكم ثلاث ان تعبدوه ولا تشركوابه شيئا وان تعتصموابحبل الله جميعا ولا تفرقوا وان تناصحوا من ولاه الله امركم

“Alloh memerintahkan mereka dengan Al Jama’ah dan melarang mereka berfirqoh firqoh. Sesungguhnya Alloh meridhoi untukmu tiga perkara:

  1. Kamu supaya beribadah kepadaNya dan dilarang untuk menyekutukanNya dengan sesuatu.
  2. Supaya kamu melaksanakan Agama Alloh dengan cara Jama’ah dan dilarang bercerai berai.
  3. Supaya kamu saling menasehati terhadap Imammu.

(Tafsir Ibnu Katsir Jilid I Halaman 389)

Di dalam kitab Tafsir Jami’ul Bayan disebutkan:

قال رسول الله ص:  ان بني اسرائيل افترقت على احدى وسبعين فرقة وان امتي ستفترقو على اثنين وسبعين فرقة كلهم فى النار الا واحدة قال انس فقيل يا رسول الله وما الواحدة فقبض يده وقال الجماعة

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Bani isroil telah pecah kepada 71 firqoh dan sesungguhnya umatku akan pecah kepada 72 firqoh, semuanya ada dalam neraka, kecuali yang satu.” Anas berkata, ditanyakan: Hai Rosululloh, apa yang satu itu?” Maka beliau menggenggamkan / mengepalkan tangannya dan bersabda: “Al Jama’ah” (tafsir Jami’ul Bayan Juz 4 halaman 32)

عليكم بالطاعة والجماعة فانها حبل الله الذي امر به

“Kamu wajib taat dan wajib (menetapi) Al Jama’ah sebab sesungguhnya agama Alloh yang menyuruh (menetapi)nya”. (Tafsir Jami’ul Bayan Juz 4 halaman 32)

يأيها الناس عليكم بالطاعة والجماعة فأنها حبل الله الذي امرا به وان ماتكرهون فى الجماعة هو خير مما تسبحون فى الفرقة

“Hai manusia kalian wajib taat dan wajib (menetapi) Al Jama’ah sebab sesungguhnya agama Alloh yang telah memerintahkannya. Dan sesungguhnya apa yang dibenci olehmu di dalam Al Jama’ah dan di dalam ketaatan, itu lebih baik daripada disukai olehmu di dalam firqoh.” (Tafsir Jami’ul Bayan Juz 4 Hal.32)

عليكم بالجماعة واياكم والفرقة فأن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين ابعد من اراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة

“Kamu wajib menetapi Al Jama’ah dan haram bagimu berfirqoh sebab sesungguhnya syetan itu bersama yang sendirian dan dia itu dari yang berdua akan menjauh. Barang siapa menghendaki di tengah-tengah surga, maka tetapilah Al Jama’ah (HR Ahmad dan Tirmidzi pada kitab Al Muntaqo Jilid 2 Hal. 948)

Dari penjelasan diatas kita dapat mengerti bahwa agama Alloh telah mewajibkan seluruh muslimin untuk menetapi Al Jama’ah dan mengharamkan seluruh muslimin bercerai berai

Bersambung ke Kewajiban Menetapi Jama’atul Muslimin (Al Jama’ah) (Bagian 2)

Tags
Show More

Related Articles

Close