Fiqih

Pengertian Adzan Dan Iqomah Serta Tata Caranya

Pengertian Adzan Dan Iqomah Serta Tata Caranya – Situs Jama’atul Muslimin pada kesempatan ini akan membahas mengenai Pengertian adzan dan iqomat serta tatacaranya. Untuk pencarian yang serupa bisa mengunjungi kategori Fiqih.

Pengertian Adzan Dan Iqomah Serta Tata Caranya

اَلْاَذَانُ لُغَةً: الْاِعْلاَمُ

وَشَرْعًا: اَلْاِعْلاَمُ بِوَقْتِ الصَّلاَةِ بِأَلْفَاظِ مَخْصُوْصَةٍ وَكَانَ فَرَضُهُ بِالْمَدِيْنَةَ فِى السَّنَةِ الْاُوْلَى مِنَ الْهِجْرَةِ, وَوَرَدَتِ اَحَادِيْثُ تَدُلُّ عَلَى اَنَّهُ شُرِعَ بِمَكَّةَ وَالصَّحِيْحُ الْاَوَّلُ (سبل السلام)

Adzan menurut lugot (bahasa) ialah “Pemberitahuan (pengumuman)”. Sedangkan adzan menurut istilah (syara’) ialah “Pemberitahuan datangnya waktu sholat dengan lafadz-lafadz yang dikhususkan (ditentukan) dan adzan difardlukan di Madinah pada tahun pertama dari hijroh. Dan ada hadist-hadist yang menunjukkan bahwa adzan disyariatkan di Makkah. Yang shoheh adalah yang awal. (Subulus Salam I halaman 118)

Berdasarkan keterangan yang paling shohih difardlukannya adzan dan iqomat ketika kaum (umat) muslimin baru datang ke Madinah waktu berhijrah, sebagaimana keterangan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim dan Imam Turmudzi, dan dishohihkan olehnya. Begitu juga yang diriwayatkan oleh Imam Nasai dari hadist Abdulloh bin Umar.

Sesudah para sohabat-sohabat Muhajirin datang ke Madinah, mereka langsung mengadakan musyawaroh untuk menetapkan apa  yang lebih baik untuk mengumpulkan orang-orang supaya sholat berjama’ah. Pada waktu hasil musyawaroh itu menetapkan (memutuskan) dengan adzan, putusan itu disahkan oleh Rosululloh . Bahkan pada waktu itu beliau memerintahkan shohabat Bilal supaya berdiri untuk adzan. (Nailul Author I halaman 31)

Hadist-hadist yang menerangkan diharuskannya adzan, sebagai berikut:

وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ اَنَّ النَّبِيَّ (ص) قَالَ: اِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةِ فَلْيُئَذِّنْ لَكُمْ اَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ اَكْبَرَكُمْ (متفق عليه)

Dan dari Malik bin Huwaris, sesungguhnya Rosululloh telah bersabda: “Apabila hadir (datang) waktu sholat hendaklah salah seorang diantara kamu adzan, dan hendaklah yang paling tua diantara kamu menjadi imam.” (Muttafaqun ‘Alaih)

عَنْ اَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ (ص) يَقُوْلُ: مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ لاَ يُؤَذِّنُوْنُ وَتُقَامُ فِيْهِمُ الصَّلاَةَ اِلاَّ اسْتَعْوَذَ عَلَيْهُمُ الشَّيْطَانِ (رواه احمد)

Dari Abi Dardai ia berkata: Saya mendengar Rosululloh bersabda: “Tidak diantara 3 (tiga) orang (yang sholatnya) tidak pakai adzan dan iqomat, kecuali dilindungi oleh syetan.” (HR Ahmad) 

SIFAT ADZAN

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ , اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ , اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ , اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله , حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ , حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ , اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ , لاَاِلهَ اِلاَّ الله

Dasar hukumnya ialah hadist yang diterima dari Abi Mahdzuroh yang ada dalam kitab Shohih Muslim juz I halaman 162.

SIFAT IQOMAT

Mengenai sifat iqomat para ulama berbeda pendapat atas dua pendapat.

1. Pendapat pertama: Mengucapkan takbir dalam iqomat dua kali dua kali.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ , اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ , اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله , حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ , قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ  , اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ , لاَاِلهَ اِلاَّ الله

 

Dasar hukumnya ialah:

عَنْ عَبْدِ اللهِ زَيْدِبْنِ عَبْدِ رَبِّهِ …… ثُمَّ تَقُوْلُ اِذَا أَقَمْتَ الصَّلاَةَ (اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ , اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ , اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله , حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ , قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ  , اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ , لاَاِلهَ اِلاَّ الله ) (رواه احمد وابو داود)

Dari Abdulloh bin Zaid bin Abdi Robbih.. kemudian apabila engkau mengqomatkan sholat: ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLOH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAR ROSULULLOH, HAYYA ‘ALA SHOLAH, HAYYA ‘ALAL FALAH, QOD QOMATISH SHOLAH, QOD QOMATISH SHOLAH, ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, LA ILAHA ILLALLOH. (Telah meriwayatkan kepada hadist ini Imam Ahmad dan Abu Dawud)

2. Pendapat kedua: Mengucapkan lafadz-lafadz iqomat semuanya satu kali satu kali kecuali lafadz QOD QOMATISH SHOLAH.

اللهُ اَكْبَرْ , اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ , اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله , حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ , قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ  , اللهُ اَكْبَرْ , لاَاِلهَ اِلاَّ الله

Dasar hukumnya ialah:

عَنْ اَنَسٍ قَالَ أُمِرَ بِلاَلٌ اَنْ يَشْفَعَ الْاَذَانَ وَاَنْ يُوْتِرَ الْأِقَامَةَ (صحيح البخارى)

Dari Anas ia berkata telah diperintah Bilal untuk menggenapkan adzan dan untuk mengganjilkan iqomah. (Shohih Bukhori juz I halaman 243)

عَنْ عَبْدِ اللهِ زَيْدِبْنِ عَبْدِ رَبِّهِ قَالَ: …….. وَالْأِقَامَةَ فُرَادَى اِلاَّ قَدْ قَامَةِ الصَّلاَةُ – اخرجه احمد وابو داود. وصححه الترمذى وابن خزيمة (بلوغ المرام)

Dari Abdullah bin Zaid bin Abdi Robbih ia berkata: …. dan ia mengucapkan iqomah sekali-sekali kecuali QOD QOMATISH SHOLAH. Telah meriwayatkan kepada hadist ini Ahmad, Abu Dawud dan telah menshohihkannya At Turmudzi dan Ibnu Huzaimah (Bulugul Marom halaman 36)

Penjelasan kedua hadist diatas:

(dan mengganjilkan iqomah) yakni sekali-sekali melafadzkannya. (Subulus Salam juz I halaman 121)

(dan iqomah sekali-sekali) tidak diulangi sedikit pun dari lafadznya (Subulus Salam juz I halaman 119)

وَدَلَّ عَلَى اَنَّ الْأِقَامَةَ تَفْرِدُ اَلْفَاظُهَا اِلاَّ لَفْظَ الْأِقَامَةِ فَأِنَّهُ يُكَرِّرُهَا وَظَاهِرُ الْحَدِيْثِ اَنَّهُ يُفْرَدُ التَّكْبِيْرُ فِى اَوَّلِهَا (سبل السلام)

Dan menunjukkan (hadist itu) sesungguhnya iqomah itu sekali-sekali mengucapkannya, kecuali lafadz QOD QOMATISH SHOLAH, maka sesungguhnya lafadz itu diulang-ulang. Dan dhohirnya hadist itu hanya sekali-sekali takbir pada permulaan iqomah. (Subulus Salam juz I halaman 119)

Kesimpulan:

Dengan melihat beberapa hadist dan beberapa keterangan diatas, menurut hemat penulis perbedaan pendapat dalam melafadzkan iqomah itu perbedaan yang boleh-boleh saja, artinya kedua pendapat tersebut diatas boleh kita amalkan, tetapi alternatif (pilihan) penulis pendapat yang kedua.

Demikian penjelasan tentang pengertian adzan dan iqomah. Wallohu ‘Alam

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button