Doa Doa Dalam Wudhu Dan Hukum Membacanya

Doa Doa Dalam Wudhu Dan Hukum Membacanya – Situs Jama’atul Muslimin pada kesempatan ini akan membahas mengenai doa doa dalam shalat / sholat dan hukum membacanya. Untuk pencarian yang serupa bisa mengunjungi kategori Fiqih.

Silakan Baca Juga

Doa Doa Dalam Wudhu Dan Hukum Membacanya

A. Doa Ketika Melihat Air Hendak Berwudhu

Ada sebagian para ulama yang berpendapat, jikalau kita melihat air wudlu kita harus berdoa dengan doa yang dibawah ini:

بِسْمِ اللهِ الْحَمْدُ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَاءَ طَهُوْرًا

“Dengan menyebut asma Alloh, segala puji bagi Alloh yang menjadikan air suci mensucikan.”

Ini bukan perbuatan dari sunnah akan tetapi perbuatan itu (orang-orang yang membaca doa ketika melihat air wudlu) adalah perbuatan bid’ah. Lihat Assunnanu Wal Mubtada’at halaman 28.

B. Doa Doa Dalam Wudhu

  1. Doa ketika mencuci tangan

بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ

“Dengan menyebut nama Alloh dan segala puji bagi Alloh tidak ada daya dan tidak ada kekuatan melainkan Alloh.”

2. Doa ketika beristinja

اَللهُمَّ حَصِّنْ فَرْجِيْ وَيَسِّرْلِيْ اَمْرِيْ

“Ya Alloh peliharalah kemaluanku dan mudahkanlah untukku urusanku.”

3. Doa ketika memasukkan air ke hidung

اَللهُمَّ لَقِّنِيْ حُجَّتِيْ وَلاَ تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Ya Alloh cerdikkanlah hujjahku dan janganlah Engkau mengharamkanku (memutuskanku) atas bau-bauan surga.”

4. Doa ketika mencuci muka

اَللهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ الْوُجُوْهُ

“Ya Alloh putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah yang sama putihnya”

5. Doa ketika mencuci kedua hastanya

اَللهُمَّ اَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنَيْ

“Ya Alloh berikanlah kitabku (buku catatan amalku) dengan tangan kananku”

6. Doa ketika mengusapkan tangannya atas kepalanya

اَللهُمَّ اَغِثْنَا بِرَحْمَتِكَ وَجَنِّبْنَا عَذَابَكَ

“Ya Alloh hujanilah kami dengan rohmatMu, dan jauhkanlah kami dari adzabmu”

7. Doa ketika mencuci kedua telapak kaki

اَللهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ الْاَقْدَامُ

“Ya Alloh tetapkanlah telapak kakiku pada hari tergelincir kaki-kakinya”

Bagaimanakah Derajat Hadist yang memuat tentang Doa Doa Wudhu tersebut?

Penulis akan meneliti derajat hadist yang memuat doa-doa wudlu.

حَدِيْثُ, يَا اَنَسٌ اُدْنُ مِنِّيْ اُعَلِّمُكَ مَقَادِيْرَ الْوُضُوْءِ قَدَنَوْتُ فَلَمَّا اَنْ غَسَلَ يَدَيْهِ قَالَ: بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ. فَلَمَّا اِسْتَنْجَى قَالَ: اَللهُمَّ حَصِّنْ فَرْجِيْ وَيَسِّرْلِيْ اَمْرِيْ. فَلَمَّا تَوَضَّأَ وَاسْتَنْشَقَ قَالَ: اَللهُمَّ لَقِّنِيْ حُجَّتِيْ وَلاَ تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ, فَلَمَّا غَسَلَ وَجْهَهُ قَالَ: اَللهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ الْوُجُوْهُ, فَلَمَّا اّنْ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ قَالَ: اَللهُمَّ اَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنَيْ, فَلَمَّا مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ قَالَ: اَللهُمَّ اَغِثْنَا بِرَحْمَتِكَ وَجَنِّبْنَا عَذَابَكَ, فَلَمَّا اَنْ غَسَلَ قَدَمَيْهِ قَالَ: اَللهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ الْاَقْدَامُ, ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِيْ بَعَثَنِيْ بِالْحَقِّ يَا اَنَسٌ مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَهَا عِنْدَ وُضُوْئِهِ لِمْ تَقْطُرَا مِنْ خَلَلِ اَصَابِعِهِ قَطْرَةٌ اِلاَّ خَلَقَ اللهُ تَعَالَى مَلَكًا يُسَبِّحُ اللهُ بِسَبْعِيْنَ لِسَانًاتَكُوْنُ ثَوَابُ ذَالِكَ التَّسْبِيْحُ لَهُ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ, فِيْهِ عُبَادَةُ بْنُ صُهَيْبٍ مِنْهُمْ وَقَالَ الْبُخَارِى وَالنَّسَائِيْ: مَتْرُوْكٌ ( السنن والمبتدعات)

Hadist, “Wahai Anas dekatlah kepadaku agar aku ajarkan engkau cara-cara berwudlu, lalu aku mendekat kepada beliau. Ketika beliau mencuci kedua tangannya beliau membaca: “BISMILLAH WAL HAMDULILLAH WALA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI”. Ketika beliau beristinja beliau membaca: “ALLOHUMMA HASH SHIN FARJI WAYASIRLI AMRI”. Tatkala beliau berwudlu dan memasukkan air ke hidung beliau membaca: “ALLOHUMMA LAQQINI HUJJATIWA LA TUHARIMNI ROIHATAL JANNAH”. Ketika beliau mencuci mukanya beliau membaca: “ALLOHUMMA BAYYID WAJHI YAUMA TABYADL DLUL WUJUHU” . Ketika beliau mencuci kedua hastanya beliau membaca: “ALLOHUMMA ATHINI KITABI BIYAMINI”. Ketika beliau mengusapkan tangannya atas kepalanya beliau mengucapkan: “ALLOHUMMA AGHISNI BIROHMATIKA WAJANNIBNA ADZABAKA”. Ketika beliau mencuci kedua telapak kakinya beliau mengucapkan: “ALLOHUMMa TSABBIT QODAMI YAUMA TAZILLU FIHIL AQDAMU”. Kemudian beliau berkata: Demi yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran wahai Anas, tidak ada seorang hamba pun yang mengucapkannya pada waktu dia berwudlu, tidak akan menetes satu tetes pun dari sela-sela jarinya melainkan Alloh akan menciptakan seorang malaikat yang tetap bertasbih memuji nama Alloh dengan tujuh puluh (70) banyak lidahnya, sedang ganjarannya dari tasbih malaikat itu adalah untuk dia sampai hari Qiyamat.” Pada sanad hadist ini diantaranya ada rowi yang bernama ‘Ubadah bin Shuhaib. Imam Bukhori dan Imam Nasai berkata: Rowi yang matruk (yang ditinggalkan). Lihat Assunanu Wal Mubatada’at halaman 30.

Dalam buku Himpunan hadist-hadist lemah dan palsu yang disusun oleh A.Yazid Qosim Koho (alm) dikatakan bahwa hadist yang diatas: “LAA ASHLA LAHU” artinya: Hadist yang diatas tidak ada asalnya.

– Dalam sanadnya ada rowi yang bernama ‘Ubadah bin Shuhaib. Dia adalah salah seorang rowi yang tertuduh suka berdusta.

– Imam Bukhori dan Imam Nasai mengatakan: Dia adalah seorang rowi yang matruk.

– Dalam sanad hadist ini (yang ada di atas) terdapat pula seorang rowi yang bernama Ahmad bin Hasyim. Dia adalah seorang rowi yang dituduh suka berdusta oleh Imam Daruquthni.

– Imam Nawawi telah menjelaskan bahwa hadist ini (yang ada di atas) bathil dan tidak ada asalnya.

– Hadist ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dari jalan ‘Ubaad bin Shuhaib. Kemudian beliau menjelaskan bahwa Abu Dawud telah mengatakan bahwa rowi ini adalah orang kepercayaan, tetapi dia termasuk golongan Qodariyyah.

– Imam Ahmad mengatakan dia adalah seorang pendusta.

– Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan hadist ini (yang ada di atas) adalah Maudlu = palsu.

Lihat Himpunan hadist-hadist lemah dan palsu halaman 19.

فَكُلُّ حَدِيْثٍ فِى اَذْكَارِ الْوُضُوْءِ فَكَذِبٌ مُخْتًلِقٌ لَمْ يَقُلْ رَسُوْلُ اللهِ (ص) شَيْئًا مِنْهُ وَلاَ عَلَّمَهُ أُمَّتَهُ (السنن والمبتدعات)

“Maka semua hadist tentang doa-doa wudlu adalah bohong yang dibuat-buat. Rosululloh ﷺ tidak mengucapkan sedikit pun (sama sekali) dan beliau tidak mengajarkan atas umatnya.” (Assunanu Wal Mubtada’at halaman 28)

Dengan melihat derajat hadist dan keterangan dari para ulama hadist jelas sekali bahwa hadist di atas yang memuat doa-doa wudlu tidak boleh kita amalkan/ pakai mengingat derajat hadist-hadisnya maudlu (palsu) yang tidak boleh dipakai hujjah, kadzab (bohong, dusta) yang dibuat-buat.

Penulis sampai sekarang ini belum menemukan hadist yang shohih yang memuat doa-doa wudlu seperti  hadist yang diatas.

Demikian penjelasan singkat tentang Doa Doa Dalam Wudhu Dan Hukum Membacanya. Wallohu ‘Alam