Jamaatul Muslimin

Perpecahan Ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Perpecahan Ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – Selamat datang di website Jama’atul Muslimin. Di situs ini kami memberikan berbagai informasi tentang kehidupan beragama sesuai syariat yang berlandaskan keterangan Qur’an dan Hadist. Adapun informasi yang kami sajikan merupakan kumpulan dari berbagai sumber yang dapat dipertanggung jawabkan dan kami cantumkan sumbernya. Untuk memahami isi dari artikel ini, Anda bisa mencari di kategori Kajian Al Jamaah.

Judul: Perpecahan Ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
Link: Perpecahan Ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Silakan Baca Juga

Perpecahan Ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

كُلُّ اُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ اِلاَّمَنْ اَبَى قَالُوايَارَسُوْلَ الله وَمَنْ اَبَى؟ قَالَ مَنْ اَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِ فَقَدْ اَبَى (رواه البخارى بخاسية السندي

Artinya:

“Semua ummatku mereka akan masuk surga, kecuali yang enggan. Mereka (para sahabat) bertanya: Wahai Rosululloh, siapakah yang enggan itu? Beliau menjawab: Barangsiapa yang taat kepadaku ia masuk surga dan barang siapa yang durhaka terhadapku maka sungguh ia telah enggan.” (HR Bukhori bikosiyah Sindie 4/257 Matba’ah Darul Fikr)

Imam As Sindie menjelaskan pengertian “ummatku, durhaka dan abaa/ enggan” demikian:

(قَوْلُهُ كُلُّ اُمَّتِى) لَعَلَّ الْمُرَادَ بِالأُمَّةِ اُمَّةُ الدَّعْوَةِ، وَالْمُرَادَ بِمَنْ اَبَى مَنْ اَبَى الْأِيْمَانَ بِهِ وَالْمُرَادَ بِالْعِصْيَانِ لاَمُطْلَقَ الْعِصْيَانِ. والله تعالى اعلم

Artinya:

(sabdanya: “Semua ummatku”) kiranya yang dimaksud dengan ummat adalah: Ummat da’wah. Dan yang dimaksudkan dengan abaa (enggan) adalah orang yang enggan beriman pada beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan itulah yang dimaksudkan dengan durhaka, bukan kemutlakan arti durhaka. Dan Alloh Ta’ala yang Maha Mengetahui.

Keterangan:

Ummat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dibagi dua:

  1. Ummat da’wah yaitu Ummat manusia yang sudah kesampaian da’wah Islam.
  2. Ummat Ijabah yaitu Ummat Da’wah yang mau menerima Da’wah Islam

Penjelasan:

Menurut pendapat Imam As Sindie yang dimaksudkan dengan Ummat pada hadist diatas adalah Ummat Da’wah.

Pendapat ini bisa kita terima apabila belum ada Ummat Ijabah, artinya ummat da’wah yang terdiri dari orang Yahudi, Nashara, Majusi, Musyrikin dan lain-lain. Diantara mereka ada yang bisa masuk surga, apabila ia mau menerima kenabian beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam serta mau mentaati ajarannya.

Apabila sudah ada Ummat Ijabah maka pendapat Imam As Sindie itu kurang tepat karena dua sifat yaitu menerima kenabian beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan taat ajarannya. Kedua-duanya itu harus dimiliki oleh calon-calon ahli surga baik dari Ummat Da’wah maupun yang berasal dari Ummat Ijabah.

Menurut kenyataannya banyak orang dari ummat ijabah yang menyimpang dari tauhid Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan banyak pula yang tidak mentaati ajarannya.

Contoh:

  • Banyak kaum muslimin yang menyembah benda-benda mati antara lain jimat, kuburan, wali-wali dan sebagainya.
  • Banyak kaum muslimin yang meninggalkan ajaran Jama’ah, imamah, Baiat dan sebagainya.

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa “perpecahan ummat Muhammad menjadi 73 golongan itu, yang satu ialah Ummat Ijabah (yang akan masuk surga) dan yang 72 golongan ialah ummat da’wah (yang bakal masuk neraka) adalah pendapat yang tidak benar, sebab:

Subtansi dari hadist Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam diatas hanya menyebutkan sifat-sifat umat yang akan masuk surga, tidak menyebutkan perpecahan umat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam dan golongan yang selamat.

Ummat Da’wah di zaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam sudah berpecah menjadi lebih dari 140 golongan/aliran. Jadi tidak mungkin umat yang akan berpecah belah yang dimaksudkan adalah umat Da’wah.

Perhatikan hadist dibawah ini:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه اَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: تَفَرَّقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى اِحْدَى وَسَبْعِيْنَ اَوِاثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذلِكَ وَتَفْتَرِقُ اُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً (رواه احمد وابو داود والترمذى واللفظ له وصححه)

Artinya:

Dari Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘Anhu sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: Telah berpecah belah agama yahudi atas 71 atau 72 golongan/aliran dan agama nashara seperti itu juga, dan akan berpecah umatku atas 73 golongan.

(HR Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi dan lafad baginya dan ia menshahihkannya).

Penjelasan:

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda  تَفْتَرِقُ اُمَّتِي atau  سَتَفْتَرِقُ yang artinya akan berpecah belah ummatku (Lihat hadist diatas dan lihat musnad Ahmad juz 3 hal 130 dan 145, Ibnu Majah juz 2 hal 1322)

Ini menunjukkan bahwa umat yang akan pecah adalah umat yang masih utuh, karena ada kata-kata “akan pecah”. Sedangkan umat yang masih utuh ketika itu ialah umat Ijabah yakni ummat yang langsung dipimpin beliau Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Jadi jelas ummat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam yang akan berpecah belah menjadi 73 golongan adalah Ummat Ijabah, bukan Ummat Da’wah.

Walaupun demikian hadist ummat yang terdapat dalam shahih Bukhori juz 4 hal 257 tersebut diatas dapat kita gunakan sebagai “standart” bagi orang atau ummat yang akan masuk surga.

Hadist lain yang serupa dengan hadist diatas antara lain

Sabda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْلَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ (رواه مسلم

Artinya:

Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji atom sifat sombong (HR Muslim)

Keterangan:

Sabda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam

الْكِبَرُ: بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم

Sombong artinya menolak kebenaran dan meremehkan orang (HR Muslim)

Adapun ayat-ayat al Qur’an yang serupa dengan hadist diatas banyak sekali antara lain

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ  وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

Artinya:

Hukum-hukum tersebut itu adalah ketentuan-ketentuan Alloh. Barangsiapa taat kepada Alloh dan RosulNya niscaya Alloh memasukkannya ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai maka kekal didalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang durhaka kepada Alloh dan RosulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Alloh memasukkannya kedalam neraka. Ia kekal didalamnya. Dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. Annisa ayat 13-14)

PERPECAHAN UMMAT MENURUT AL QUR’AN

Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala

وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ  فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Artinya:

Dan sesungguhnya umat kamu ini adalah umat yang satu (satu agama/ agama tauhid) dan Aku adalah Robbmu, maka bertakwalah kepadaKu. Kemudian mereka memecah belah urusan mereka (agama mereka) menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. (QS Al Mu’minun 52-53)

Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ  مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Artinya:

Dengan kembali bertaubat kepadaNya dan bertakwalah kepada Nya serta dirikan sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Alloh, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka bergolong-golongan. Tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka. (QS Arrum 31-32)

Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Alloh, kemudian Alloh akan menceritakan kepada mereka apa-apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al an’am 159)

Keterangan:

Dari beberapa ayat al Qur’an diatas menunjukkan bahwa perpecahan umat terjadi pada umat Ijabah bukan umat Da’wah.

HADIST-HADIST NABI YANG MENJELASKAN BAHWA PERPECAHAN UMMAT TERJADI PADA UMMAT IJABAH

عَنْ مُعَاوِيَةَبْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ اَنَّهُ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: ألآ اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِيْنَا فَقَالَ: ألآ اِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةَ وَاِنَّ هذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ (رواه ابو داود(

Artinya:

Dari Muawiyah bin Abi sufyan Rodhiyallohu ‘Anhu, sesungguhnya ia berdiri lalu berkata: Ingatlah sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam (pernah) berdiri di hadapan kita lalu bersabda: Ingatlah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab mereka telah bercerai berai menjadi 72 aliran. Dan sesungguhnya “millah” ini (agama Islam/ ummat Ijabah/ummat muslimin) akan bercerai berai menjadi 73 aliran, yang 72 aliran (dari umat Ijabah) di neraka dan yang satu di surga, yaitu Al Jama’ah (HR Abu Dawud juz 2 hal 259)

عَنْ حُذَيْفَةَبْنِ الْيَمَانِ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَسْئَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ ص.م عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ اَسْئَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ اَنْ يُدْرِكَنِيْ. فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنَّا كُنَّا فِى جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ. فَجَائَنَا اللهُ بِهذَالْخَيْرِ. فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذلِكَ الشَّرَِ مِنْ خَيْرٍ قَالَ: نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ.قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَسْتَنُوْنًَ بِغَيْرِ سُنَّتِى وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتَنْكِرُ. قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرِّ؟ قَالَ: نَعَمْ. دُعَاةٌ عَلَى اَبْوَابِ جَهَنَّمَ مِنْ اَجَابَهُمْ اِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا. قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَمَا تَأْمُرُوْنِى اِنْ اَدْرَكَنِىْ ذلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةُ الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ.قُلْتُ فَأِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا اِمَاٌم، قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ اَنْ تَعَضَّ  بِاَصْلِ شَجَرَةٍحَتَى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَاَنْتَ عَلَى ذلِكَ (مسلم)

Artinya:

Dari Khudzaifah bin Yaman Rodhiyallohu ‘Anhu ia berkata: adalah orang-orang menanyakan kepada Rosululloh tentang kebaikan dan saya bertanya tentang kejelekan karena saya takut mungkin hal itu akan mengenai diri saya. Maka saya bertanya: Ya Rosululloh, sesungguhnya kami dahulu adalah didalam jahiliyah dan didalam masa yang buruk (kacau balau)* kemudian Alloh mendatangkan kepada kami kebaikan (Islam)**. Apakah sesudah kebaikan ini akan berulang pula keburukan (kejahatan)? Beliau bersabda “Ya”. Kembali saya bertanya dan apakah sesudah keburukan itu akan datang pula kebaikan? Beliau menjawab “Ya” akan datang pula kebaikan tetapi didalamnya terdapat “dakhonun” (keburukan)**. Saya bertanya lagi “apakah dakhonun itu? Beliau menjawab “kaum yang mengerjakan selain sunnahku dan mereka memberi petunjuk bukan dari petunjukku, engkau ketahui dari mereka  itu dan engkau ingkari**. Saya bertanya lagi, “apakah sesudah kebaikan akan ada keburukan pula?” beliau bersabda “ya, ajakan ke pintu-pintu jahanam. Barangsiapa mengikuti ajaran mereka itu, pasti ia akan dicampakkan kedalam neraka.”

Saya bertanya lagi “Ya Rosululloh, terangkan sifat-sifat mereka itu kepada kami? Beliau bersabda mereka itu pada dhohirnya sekulit dengan kami (sama-sama muslim) dan mereka berbicara dengan lidah kami (sama-sama menyerukan al Qur’an al Hadist)**. Saya bertanya lagi “maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, jika kami menjumpai hal-hal yang demikian itu? Beliau bersabda “Tetapilah olehmu JAMA’ATUL MUSLIMIN beserta keimamannya.”

Saya bertanya lagi, ”bagaimana kalau tidak ada Jama’atul Muslimin dan Imamnya?” Beliau bersabda “hendaklah engkau memisahkan diri dari semua golongan itu”. Sekalipun kamu sampai menggigit (makan) akar-akar pepohonan, sehingga maut menjemputmu, engkau tetap demikian”. (HR Muslim jilid II hal 135 dan Bukhori jilid IV hal 225).

TENTANG IJTIHAD

Ketika Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendak mengirim sahabat Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman sebagai utusan, beliau menanyainya:

بِمَا تَقْضِ يَامُعَذُ؟ فَأَجَابَهُ  قَائِلاً: بِكِتَابِ اللهِ قَالَ رَسُوْلُ فَأِنْ لَمْ تَجِد فِى كِتَابِ الله؟ قَالَ مَعَذُ: اَقْضِى بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ  قَالَ رَسُولُ: فَأِنْ لَمْ تَجِد بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ؟ قَالَ مَعَذُ؟ اَجْتَهِدُ رَأْيِيْ لآ اَلُوْ. فَتَهَلَّلَ وَجْهُ الرَّسُوْلِ وَقَالَ: الْحَمْدُلله الَّذِيْ وَفَّقَ رَسُوْلَ رَسُوْلِ الله لِمَا يَرْضَى رَسُوْلَ الله (رجال حول الرسول)

“Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz? Sabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. “Kitabulloh” ujar Mu’adz.

Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam kitabulloh?” Tanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam. “Saya putuskan  dengan sunnah Rosul” ujar Mu’adz. Bersabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam: “Jika tidak kamu jumpai pada sunnah RosulNya?, “saya gunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya tidak akan berlaku sia-sia” jawab Mu’adz.

Maka berseri-serilah wajah Rosululloh seraya bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rosululloh sebagai yang diridhoi oleh Rosululloh (Rijalu haulil rasul).

Keterangan:

Dari percakapan Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan sahabat Mu’adz bin Jabal diatas dapat dipahami:

  • Sumber hukum pertama adalah al Qur’an
  • Sumber hukum kedua adalah as Sunnah
  • Sumber hukum ketiga adalah hasil ijtihad dengan syarat apabila tidak terdapat hukumnya didalam al Qur’an dan as Sunnah.

Dari pemahaman ini dapat diambil kesimpulan bahwa mengamalkan as Sunnah atau hadist-hadist nabi yang shohih bukanlah berijtihad, tetapi lebih patut dinamakan ittiba atau mengikuti. Termasuk menetapi (mengatakan dan mengamalkan) Jama’atul muslimin adalah ittiba Rosul bukan ijtihad.

TENTANG JAMA’AH DHORURAH

Ada orang berpendapat bahwa apabila belum bisa ditegakkan Jama’atul Muslimin seperti pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam di Madinah, maka boleh membuat jama’ah yang sifatnya dhorurah/ sementara dengan usaha menuju Jama’atul Muslimin yang sebenarnya. Alasan mereka adalah berijtihad, apabila pendapatnya itu benar akan mendapat pahala dua dan bila salah masih mendapat pahala satu.

Pendapat ini tidak benar karena:

Perintah jama’ah adalah perintah yang jelas ada dalam al Qur’an dan As Sunnah, kita tinggal melaksanakan (ittiba), sedangkan ijtihad adalah perkara-perkara yang tidak ada dalam al Qur’an dan as Sunnah.

Perintah jama’ah adalah perintah Alloh mulai dari awal perjuangan kaum muslimin di Mekkah.

Ketika itu kaum muslimin belum mempunyai wilayah dan kekuasaan, akan tetapi perintah jama’ah sudah diturunkan sebagaimana yang tercantum dalam surat asy Syura ayat 13 yang turun di Mekkah.

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Tegakkanlah agama itu tetapi jangan kamu berpecah belah di dalamnya”

Ini menunjukkan bahwa jama’ah wajib dilaksanakan, walaupun kaum muslimin belum mempunyai wilayah dan kekuasaan.

Oleh karena itu Jama’atul Muslimin tetap sah hukumnya walaupun belum mampu menegakkan hukum had/ jinayat seperti mencuri dipotong tangannya, orang zina dirajam dan lain-lain.

Beramal Menurut Kemampuan

Firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya:

Maka bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kemampuanmu (istitho’ah) dan denganlah serta taatlah, dan nafkahkanlah yang baik bagi dirimu, dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At Tahgobun 16).

Catatan

Hal-hal yang mampu dikerjakan oleh Jama’atul Muslimin sekarang antara lain:

  • Memiliki wadah persatuan bagi seluruh kaum muslimin di dunia ini, terutama bagi muslimin yang telah mengimani kebenaran wajib adanya – Jama’atul Muslimin.
  • Berusaha mengadakan pembinaan muslimin/ ro’yah dalam bidang: Pendidikan / Tarbiyah
  • Infaq
  • Kekeluargaan atau silaturahim dan lain-lain

Hal-hal yang belum mampu bagi Jama’atul muslimin antara lain:

  • Menguasai wilayah bumi Allah
  • Menguasai wilayah hukum
  • Memerangi orang-orang kafir
  • Memerangi orang yang keluar dari jama’ah
  • Mendamaikan perpecahan jama’ah (ishlah)
  • Menegakkan hukum had/ Jinayat dll

Kesimpulan:

Dari tiga alasan diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Jama’ah Dhorurah adalah bukan hasil ijtihad karena itu tidak berlaku hukum ijtihad, bila benar dapat pahala dua dan bila salah mendapat pahala satu.
  2. Jama’ah dhorurah adalah bid’ah munkarah yang harus ditinggalkan, karena sudah ada dalil jama’ah yang jelas dari al Qur’an ataupun as Sunnah, agar jama’ah ditetapinya walaupun belum mampu melaksanakan hukum had/ jinayat.
  3. Jama’ah dhorurah membaurkan antara kebenaran/ al haq dengan ro’yu/ pendapat.

Salah satu contoh:

Jama’ah Dhorurah mengadakan baiat kepada para anggotanya, semestinya bila sifatnya dhorurah, maka tidak perlu mengadakan baiat sebagaimana Rosululloh membaiat kepada para sahabat.

Surabaya, 7 Agustus 2001

Achmad Soekamto

Demikianlah Informasi Atau Penjelasan Tentang Perpecahan Ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Semoga apa yang kami sampaikan bisa bermanfaat dan diamalkan untuk menuju keridhoan Alloh Ta’ala. Dan semoga Alloh memberikan kepahaman kepada kita semua dalam beragama.

Anda telah membaca Perpecahan Ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan link //jamaatulmuslimin.org/perpecahan-ummat-muhammad-shallallahu-alaihi-wasallam/